Kedaulatan “Semu”, Fenomena Politik Venezuela, Irak, dan Libya

19 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Orang-orang mengibarkan bendera Venezuela raksasa saat mereka berpartisipasi dalam demonstrasi mendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro di alun-alun Cinelandia di Rio de Janeiro, Brasil, Senin (5/1/2026). Foto: Mauro Pimentel/AFP

Kedaulatan negara merupakan salah satu prinsip fundamental dalam sistem internasional modern yang berakar pada Perdamaian Westphalia 1648. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap negara memiliki otoritas tertinggi atas wilayah dan urusan domestiknya tanpa campur tangan pihak eksternal.

Dalam teori hubungan internasional, kedaulatan diposisikan sebagai fondasi legal dan normatif yang menjamin kesetaraan antarnegara dalam sistem global yang ‘anarkis’.

Namun, dalam praktik politik global kontemporer, kedaulatan sering kali tidak bermakna berkuasa secara absolut. Intervensi negara-negara besar—khususnya Amerika Serikat terhadap negara-negara yang dianggap bertentangan dengan kepentingannya—memunculkan kritik terhadap apa yang dapat disebut sebagai kedaulatan “semu”.

Istilah yang merujuk pada kondisi di mana kedaulatan hanya diakui secara formal, tetapi dilanggar secara substantif melalui tekanan politik, ekonomi, dan militer.

Ilustrasi bendera Amerika Serikat. Foto: AP Photo/ Pamela Smith

Amerika Serikat—sebagai kekuatan hegemonik pasca Perang Dingin—kerap memposisikan dirinya sebagai penjaga demokrasi, hak asasi manusia, dan stabilitas global. Namun, narasi normatif tersebut sering kali berkelindan dengan kepentingan strategis, khususnya yang berkaitan dengan akses terhadap sumber daya alam, pengaruh geopolitik, dan dominasi ekonomi global.

Dalam konteks ini, intervensi menjadi instrumen kebijakan luar negeri yang dilegitimasi melalui diskursus moral dan keamanan.

Kasus Venezuela yang terbaru misalnya, secara jelas memperlihatkan bagaimana kedaulatan negara dipertaruhkan dalam politik global. Venezuela—sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia—menjadi sasaran tekanan politik, sanksi ekonomi, dan delegitimasi pemerintahan.

Tuduhan terhadap Maduro sebagai pemimpin otoriter sering dijadikan dasar justifikasi untuk intervensi tidak langsung, yang oleh banyak analis dinilai berkaitan erat dengan kepentingan energi dan geopolitik Amerika Serikat.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro tiba Heliport Downtown Manhattan menuju Gedung Pengadilan Daniel Patrick Manhattan untuk menjalani sidang di Kota New York, Amerika Serikat, Senin (5/1/2026). Foto: Eduardo Munoz/REUTERS

Penangkapan Presiden Nicolás Maduro melalui operasi militer AS menimbulkan persoalan serius dalam hukum internasional. Prinsip non-intervention dan sovereign immunity yang secara normatif melindungi kepala negara dari yurisdiksi eksternal telah diabaikan. Hal ini menunjukkan bahwa kedaulatan negara tidak lagi bersifat universal, tetapi bersifat selektif dan tunduk pada relasi kekuasaan.

Preseden yang lebih ekstrem dapat dilihat pada invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003. Dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal dan ancaman terhadap keamanan global, Amerika Serikat menggulingkan rezim Saddam Hussein.

Fakta bahwa klaim senjata tersebut tidak pernah terbukti secara empiris memperkuat kritik bahwa invasi tersebut lebih didorong oleh kepentingan strategis, terutama kontrol atas cadangan minyak Irak.

Penangkapan dan eksekusi Saddam Hussein pascainvasi menjadi simbol runtuhnya kedaulatan Irak sebagai negara merdeka. Proses hukum yang berlangsung di bawah bayang-bayang pendudukan militer asing memunculkan pertanyaan mengenai independensi peradilan dan legitimasi hukum. Dalam konteks ini, kedaulatan Irak tidak hilang secara formal, tetapi terdegradasi secara substantif.

Presiden Irak Saddam Hussein disambut oleh Raja Hussein dari Yordania saat pemimpin Irak itu tiba untuk menghadiri KTT Arab darurat pada hari Minggu di Amman, 7 November 1987. Foto: REUTERS/Stringer JWH

Begitu pula dengan yang terjadi di Libya pada 2011 ketika negara tersebut dipimpin oleh Muammar Khadafi yang juga mencerminkan pola serupa. Intervensi NATO saat itu—yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya—dilakukan dengan legitimasi Resolusi Dewan Keamanan PBB atas dasar Read Entire Article